[email protected]

Senin s/d Jumat 07:00 - 15:00
0816262579

Anak Menangis Saat Kalah Lomba? Yuk, Ajarkan Sportivitas Sejak Dini

Medalinya sudah dibagikan, nama-nama pemenang sudah dipanggil, dan nama si kecil tidak ada di sana. Di mobil, anak diam saja. Lalu tangisnya pecah. Katanya, si kecil tidak mau ikut lomba lagi. Selamanya.

Momen anak kalah lomba seperti ini hampir pasti dialami setiap orang tua, entah di lomba sekolah atau cuma kalah main ular tangga dengan kakaknya. Jujur saja, kalimat pertama yang muncul di kepala sering kali "Sudah, jangan cengeng." Wajar kalau itu yang terlintas, tapi kalimat itu jarang membuat anak berhenti menangis.

Kenapa Kalah Terasa Begitu Berat untuk Anak?

Lomba mewarnai mungkin cuma satu sore buat kita. Si kecil bisa saja sudah memikirkannya sepanjang minggu, membayangkan namanya dipanggil lalu berjalan ke depan.

Anak usia empat atau lima tahun juga baru belajar mengenali emosinya sendiri. Kecewa dan malu datang bersamaan, dan karena anak belum punya kata untuk keduanya, yang keluar adalah tangis atau teriakan. Anak yang sedang kewalahan seperti itu memang susah diajak bicara.

Lomba juga biasanya jatuh di hari yang panjang. Bangun lebih pagi, antre giliran, kepanasan, lalu lapar. Anak yang lelah lebih cepat habis sabarnya, jadi kadang air minum dan pelukan perlu datang sebelum nasihat apa pun.

Cara Mengajarkan Sportivitas pada Anak, Langkah demi Langkah

Beberapa cara mengajarkan sportivitas pada anak di bawah ini bisa langsung dicoba di kekalahan berikutnya.

1. Tunggu Tangisnya Reda, Lalu Namai Perasaannya

Jangan buru-buru menasihati. Duduk di sampingnya dulu. Setelah napasnya mulai tenang, coba katakan, "Kecewa ya, Nak? Kamu pengin banget menang tadi." Anak yang merasa dimengerti biasanya lebih cepat siap mendengar. Kalau anak masih marah, pembicaraannya bisa ditunda sampai sebelum tidur. Kalau tangisnya sudah berubah jadi berteriak dan berguling di lantai, langkah cara mengatasi tantrum tanpa marah lebih cocok dipakai dulu.

2. Jangan Sebut Nama Anak Lain

"Tuh, temanmu saja tidak menangis." Niatnya menyemangati, tapi anak mendengarnya sebagai satu kekalahan lagi hari ini, dan biasanya tangisnya malah makin keras.

3. Puji Usaha Anak Secara Spesifik

"Kamu hebat" gampang diucapkan, dan anak juga cepat lupa. Coba lebih spesifik: "Tadi kamu mewarnai langitnya pelan-pelan supaya tidak keluar garis. Bunda lihat, lho." Kalimat seperti ini memberi tahu anak bahwa ada yang memperhatikan usahanya, termasuk di hari anak tidak menang.

4. Tunjukkan Cara Kalah yang Baik

Anak belajar paling banyak dari melihat. Saat Ayah kalah main kartu di rumah, beri selamat ke pemenangnya dengan sungguh-sungguh. Boleh juga sambil mengaku, "Wah, Ayah kesal juga, nih. Tapi seru, ya."

5. Biasakan Kalah di Rumah

Permainan sederhana seperti ular tangga memberi anak kesempatan kalah berkali-kali di tempat yang aman, bersama orang yang menyayanginya. Sesekali biarkan si kecil benar-benar kalah. Kalau orang tua selalu mengalah, lomba sungguhan akan terasa jauh lebih mengejutkan.

Kapan Perlu Bicara dengan Guru?

Sesekali menangis karena kalah itu normal. Ceritakan ke guru atau tenaga profesional jika anak mulai menolak semua kegiatan yang ada unsur menang-kalahnya, memukul atau menyakiti diri saat kecewa, atau ledakan emosinya terus berulang selama berminggu-minggu.

Kompetisi di Kelas Montessori

Di kelas Montessori, anak jarang diadu satu sama lain dan lebih sering mengulang satu kegiatan sampai bisa, lalu puas karena berhasil. Rasa percaya diri yang tumbuh dari situ tidak perlu menunggu medali. Di rumah, Ayah Bunda bisa meniru caranya dengan mengganti pertanyaan "Kamu juara berapa?" menjadi "Apa yang hari ini sudah bisa kamu lakukan?"

Ayah Bunda bisa membaca lebih jauh tentang pendekatan Chebira Montessori School, atau melihat langsung suasana kelasnya lewat trial gratis di Chebira Montessori School.

Jadi, saat anak kalah lomba lagi nanti, coba mulai dari satu kalimat saja: "Kecewa ya? Sini, duduk dulu sama Bunda." Sisanya bisa dibicarakan di jalan pulang.


Frida

Frida

Halo! Saya Frida yang merupakan seorang yang memiliki pengalaman dalam pemasaran digital. Saya memiliki keahlian dalam kepenulisan yang menguasai berbagai topik, termasuk gaya hidup, entertainment, pendidikan, dan kesehatan. Mari bersama-sama mencapai puncak!


WhatsApp Logo