halo@chebira.com

Senin s/d Jumat 07:00 - 15:00
0816262579

Wayang merupakan salah satu warisan budaya paling berharga di Indonesia. Tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga sarana pendidikan moral dan karakter bagi generasi muda. Setiap tanggal 7 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Wayang Nasional, momen penting untuk mengenang peran wayang sebagai warisan dunia yang diakui UNESCO sejak tahun 2003.

Bagi dunia pendidikan, terutama dalam pendekatan Montessori, nilai-nilai dalam kisah wayang memiliki makna mendalam untuk membentuk karakter anak sejak dini. Melalui kegiatan kreatif seperti bercerita, bermain peran, hingga membuat mini wayang dari bahan sederhana, anak-anak belajar banyak tentang nilai kehidupan—tanpa merasa digurui.

Sejarah Hari Wayang Nasional

Penetapan Hari Wayang Nasional tidak lepas dari pengakuan UNESCO terhadap wayang sebagai “Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity” pada tahun 2003. Setelah pengakuan tersebut, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2018 menetapkan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Nasional.

Wayang sendiri telah hadir sejak berabad-abad lalu, berakar dari tradisi masyarakat Jawa, Bali, dan Sunda. Fungsinya tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan moral, filosofi kehidupan, hingga nilai spiritual. Tokoh-tokoh seperti Arjuna, Semar, dan Pandawa Lima sering dijadikan teladan tentang keberanian, kejujuran, serta kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan hidup.

Makna Wayang bagi Pendidikan Karakter Anak

Di era modern, terutama dalam sistem pendidikan seperti Montessori, nilai-nilai yang terkandung dalam kisah wayang tetap relevan. Montessori percaya bahwa pendidikan terbaik adalah yang menumbuhkan karakter dan kemandirian anak melalui pengalaman langsung.

Kisah-kisah wayang mengajarkan hal-hal seperti:

  • Kejujuran, melalui tokoh Yudistira yang selalu menjunjung kebenaran.
  • Kepedulian, dari sosok Semar yang rendah hati dan penuh kasih.
  • Keteguhan hati, seperti Arjuna yang fokus pada tujuan hidupnya.

Nilai-nilai ini bisa diintegrasikan dalam kegiatan belajar anak sehari-hari. Misalnya, anak diajak mendengarkan cerita wayang sederhana, menggambar tokohnya, atau bermain peran menjadi salah satu karakter. Dengan cara ini, mereka tidak hanya mengenal budaya tetapi juga membangun empati dan tanggung jawab sosial sejak dini.

Wayang dan Pembentukan Karakter di Usia Dini

Usia dini adalah masa emas pembentukan karakter. Ketika anak-anak mengenal tokoh-tokoh wayang yang penuh nilai kehidupan, mereka belajar membedakan mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk. Cerita wayang bisa menjadi alat refleksi yang sederhana namun kuat, terutama jika dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari anak.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Montessori: “Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think.” Anak-anak tidak hanya menghafal cerita, tapi juga memahami maknanya—melatih empati, rasa tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan dengan bijak.

Mari bersama menumbuhkan generasi yang berkarakter melalui pembelajaran yang berakar pada budaya dan nilai luhur bangsa.

Kunjungi disini untuk melihat bagaimana pendekatan Montessori membantu anak-anak belajar dengan penuh makna—dari mengenal batik hingga memahami filosofi wayang dalam kehidupan sehari-hari.


Frida

Halo! Saya Frida yang merupakan seorang yang memiliki pengalaman dalam pemasaran digital. Saya memiliki keahlian dalam kepenulisan yang menguasai berbagai topik, termasuk gaya hidup, entertainment, pendidikan, dan kesehatan. Mari bersama-sama mencapai puncak!


Komentar

WhatsApp Logo